Sabtu, 06 Februari 2021
Radikalisme Pendidikan Agama Islam dan Solusinya
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Pendidikan menjadi salah satu fokus utama disetiap negara, untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas baik dibutuhkan guru-guru yang profesional dan kompeten dalam bidangnya masing-masing, maka setiap negara mewajibkan pendidikan kepada masyarakatnya agar kebutuhan perkembangan teknologi maupun modernisasi terpenuhi, sehingga disetiap negara berlomba lomba dalam memperbaiki kualitas pendidikannya.
Indonesia salah satu negara yang memfokuskan perubahan serta pembaharuan dalam pembangunan bangsa. Di sektor pendidikan, pemerintah pun sangat serius memperhatikan pendidikan sehingga disepakati anggaran pendidikan pada APBN teralokasi 20%, di tahun 2020 mengalami peningkatan jumlah anggaran sekitar 2,7% yaitu 505,8 Triliun rupiah.
Besarnya nilai anggaran pendidikan pada indonesia adalah bukti komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, perubahan regulasi pun diikut sertakan untuk mempermudah setiap instansi pendidikan berbasis negri maupun swasta yang pada hari ini masing-masing instansi pendidikan berlomba lomba memperbaiki kualitas pendidikannya dalam ruang lingkup sederhana bernama Sekolah baik dasar, menengah, atas bahkan sampai universitas.
Karna pemerintah sangat paham betapa pentingnya pendidikan pada suatu bangsa, kemajuan suatu bangsa dapat dinilai dari kualitas pendidikan itu sendiri.
Sebagaimana undang undang dasar tahun 1945 pasal 1 nomor 20 tahun 2003 yang menjelaskan tentang pendidikan nasional, "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu pemahaman mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara".
Namun banyak persoalan-persoalan yang mucul dibalik keseriusan pemerintah didalam meningkatkan kualitas pendidikan tersebut baik dari persoalan kesejahteraan guru, dan pemerataan pendidikan kepada semua golongan masyarakat dan kesadaran masyarakat itu sendiri terhadap pentingnya pendidikan bagi dirinya.
Akan tetapi ada masalah utama yang sedang dihadapi bangsa ini yaitu pendidikan menajadi lahan subur terhadap paham radikalisme. Karna radikalisme adalah gerakan yang sangat sistematis dan terukur yang ingin merubah radikalis sampai ke akar-akarnya, menurut mentri Koordinator bidang politik hukum dan keamanan Prof. Mahfud Md menyatakan bahwa "radikalisme adalah satu paham yang ingin mengganti dasar ideologi negara dengan cara melawan aturan kemudian merusak cara berfikir generasi baru baik itu agama islam atau bukan agama islam jika melakukan aksi teror itu disebut radikal".
Indonesia telah menghadapi banyak aksi terorisme dan bahkan tak heran banyak aksi radikalime atau terorisme yang dilakukan oleh pemuda bahkan anak-anak, yang disebabkan oleh pendidikan formal yang menganut paham radikalis. Pemerintah pun mulai mengatur regulasi-regulasi yang bisa membatasi persoalan radikalisme, doktrinisasi radikalisme pada pendidikan tak bisa dihindarkan, penentuan kurikulum dan latar belakang guru serta lemahnya kebijakan kepala sekolah bisa menjadi sebab tumbuhnya paham radikal.
Anak anak menjadi sasaran utama pada paham radikal karna mudahnya mendoktrinisasi, sehingga pendidikan menjadi tempat penanaman paham-paham yang tak sesuai dengan syara' menjadikan negara sebagai musuh, bertolak belakang dengan undang-undang dasar 1945 dan menjadikannya sebagai satu point untuk membenci negaranya, membenturkan agama dan menjadikan anak anak dan pemuda sebagai bibit-bibit yang tumbuh atas dasar paham radikal.
Selain itu kelemahan instansi pun penyebab munculnya paham ini, yang seharusnya protokol pemerintah menjadi bahan acuan utama serta ketegasan kepala satuan pendidikan dapat dengan cepat mecegah paham radikal berkembang sehingga dengan sendirinya paham ini dapat dengan mudah hilang dari instansi pendidikan.
Maka perlu langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan dalam mencegah pertumbuhan pemahaman yang bertentangan denga syara' atau paham radikalisme dalam dunia pendidikan yang bukan hanya tugas pemerintah saja tapi setiap kepala satuan pendidikan bahkan masyarakat pun harus ikut andil dalam mencegah pemahaman ini.
Link Ppt Muhammad Rifqi Arif
https://drive.google.com/file/d/1Dkz06zirQ2x4uEh37WBr8KQbbFuE59l1/view?usp=drivesdk
Kontribusi Sarjana Pendidikan Agama Islam Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Assalamu’alaikum wr. wb.
Bismillah alhamdulillah wa shollatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad bin Abdillah, wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’iin.
Seperti yang kita tahu, sistem pendidikan memiliki dua tonggak inti yaitu keberadaan pendidik dan peserta didik. Berbagai pola pun disusun dan dirembukkan sedemikian rupa demi terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri, memiliki integritas dan intelektualitas yang mumpuni.
Dalam penggalan UUD 1945 alenia keempat terdapat kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Maka dari itu, menciptakan masyarakat yang cerdas merupakan salah satu tujuan dari negara Indonesia, mengingat bangsa kita memiliki SDA yang melimpah ruah, tetapi tidak diimbangi dengan SDM yang berkualitas.
Lalu bagaimana caranya menciptakan SDM yang berkualitas tanpa harus susah-payah menggunakan tenaga kerja asing? Jawaban ada di dalam pendidikan. Namun, apakah pendidikan bisa menjamin terciptanya SDM yang berkualitas? Jelas tidak ada yang bisa memastikan hal tersebut. Gonjang-ganjing perdebatan mengenai SDM berkualitas dari masyarakat di negara ini pun terjadi.
Perlu diketahui, bahwasanya output yang berkulitas didukung oleh tenaga pengajar yang kompeten dan profesional. Alhasil, sekolah tinggi dan universitas menjadi sumber yang diharapkan dapat melahirkan pendidik-pendidik yang bermutu, bertanggung jawab, dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi apa gunanya pendidik yang kompeten dan profesional jikalau mereka tidak memiliki sikap atau akhlak yang baik? Kecerdasan yang tidak diimbangi dengan budi pekerti yang luhur, hanya menghasilkan banyak pertentangan yang berujung pada penyimpangan, pembangkangan, dan tindak kejahatan yang luar biasa.
Lalu siapa yang dapat diandalkan dan diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan di negeri ini dengan sebaik-baiknya? Mari kita lihat kontribusi dari sarjana Pendidikan Agama Islam.
“Hah? Bukannya sarjana lulusan prodi Pendidikan Agama Islam hanya digunakan untuk mengajar Pendidikan Agama Islam saja? Bagaimana dengan nasib ilmu pengetahuan umum seperti matematika, fisika, biologi, kimia, dan lainnya?” Begitulah paradigma yang tertanam dalam pemikiran masyarakat kita saat mengetahui gelar sarjana Pendidikan Agama Islam.
Padahal tujuan daripada Pendidikan Agama Islam sendiri tidak hanya sebatas itu. Bila dibentangkan lebih lebar, Islam memberi himbauan untuk umatnya agar giat menuntut ilmu, mulai dari buwaian sampai liang lahat. Alasannya adalah karena Allah SWT telah menanamkan pada tiap-tiap diri manusia sebuah kelebihan yang berfungsi untuk keberlangsungan hidup seluruh umat manusia baik secara pribadi maupun menyeluruh.
Strategi Dakwah dalam Bidang Pendidikan Agama Islam pada Anak di Tengah Pandemi Covid-19
Semenjak Covid-19 menyebarluas di Indonesia membawa beberapa masalah dalam semua bidang kehidupan manusia. Salah satunya adalah dalam bidang pendidikan yang paling utama adalah pendidikan Agama. Pendidikan Agama Islam yang selama ini diajarkan secara langsung oleh para guru di sekolah serta para ustaz ustazah di Taman Pendidikan Al-Qur'an terpaksa kini harus diliburkan karena adanya anjuran dari pemerintah. Lantas para anak pasti bingung dalam memahami Pendidikan Agama Islam jika tidak ada sosok pembimbing bagi dirinya. Serta permasalahan anak yang mudah bosan dan mental yang belum terlatih berani dalam menghadapi banyak orang.
Sebuah penelitian memaparkan bahwa gaya belajar anak secara daring cenderung lebih visual dan baca tulis yang kuat (Drago, & Wagner,2004) banyaknya platform yang mendukung secara gratis seperti Google Classroom, WhatsApp, Quipper dan lain sebagainya (Abidah, Hidayaatullah, Simamora, Fehabutar, & Mutakinati, 2020) namun penggunaan platform tersebut belum efektif, karena keterbatasan sarana dan prasarana para anak yang kurang memadai.
Dengan mengutip data di atas perlu adanya dakwah terhadap anak yang mengutamakan kreativitas dan adanya tantangan bagi anak agar dapat melatih mental mereka. Dakwah sendiri merupakan usaha menyampaikan sesuatu kepada orang lain, baik itu perorangan atau kelompok tentang pandangan dan tujuan hidup manusia sesuai Islam. Dakwah dapat diartikan sebagai seruan, ajakan, dan panggilan. Atau lebih tegasnya, dakwah adalah proses penyampaian ajaran islam dari seseorang kepada orang lain, baik secara individu, maupun secara kelompok. Dalam berdakwah harus menyiapkan strategi dakwah yang baik agar dapat tercapainya tujuan dakwah. Strategi dakwah adalah sebuah cara dalam mengajak sasaran dakwah dalam situasi dan kondisi tertentu guna mencapai tujuan dakwah tertentu.
Dalam situasi dan kondisi pandemi Covid-19 ini strategi dakwah yang perlu dilakukan adalah dengan memanfaatkan sosial media (virtual) atau jika ada kemungkinan dilaksanakan secara langsung harus sesuai dengan protokol kesehatan.
Salah satu strategi pengembangan pendidikan Agama Islam pada anak yakni dengan mengadakan perlombaan. Perlombaan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman anak mengenai Pendidikan Agama Islam. Dengan adanya perlombaan ini dapat melatih mental anak-anak tidak hanya teori saja. lomba ini juga dapat meningkatkan dan mengembangkan prestasi anak dalam bidang keagamaan yang antinya bisa menjadi para generasi yang saleh dan salehah.
Perlombaan anak-anak dalam bidang Pendidikan Agama Islam di tengah pandemi ini bisa dilakukan secara virtul maupun langsung namun dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan. Dengan adanya Festival Anak Islami yang telah saya lakukan bersama para remaja Masjid Nurul Iman ini terbukti membawa dampak positif bagi anak seperti kebiasaaan pada diri mereka untuk senantiasa membaca serta menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an, kebiasaan berlatih Adzan dan Iqomah, serta kebiasan untuk senantiasa belajar mengenai pendidikan Agama Islam terkait Aqidah dan Akhlak
Jumat, 05 Februari 2021
Pentingnya Pendidikan Agama Islam pada Generasi Muda
Pendidikan bertujuan untuk membentuk suatu perilaku yang baik pada generasi muda
muslim, yang berdasarkan dengan aqidah Islam serta ketauhidannya kepada Allah
swt., bergaul dengan teman yang mempunyai akhlak yang baik pula, memperdalam
gama dengan berbagai cara, misalnya saja mempelajari hadits-hadits yang
berkaitan dengan hukum -hukum Islam agar pengetahuannya bertambah semakin luas.
Islam mempunyai tujuan untuk menanamkan jiwa kemasyarakatan yang sangat penting
dan berguna kelak ketika sudah berkeluarga, dan sekarang seorang pemuda
mempunyai tugas untuk berlatih dalam masyasakat sedikit demi sedikit agar kelak
tidak kesulitan ketika terjun langsung dalam masyarakat. Hal itu memerlukan
kesadaran yang muncul dalam diri sendiri, atau ada juga dorongan dari luar
misalnya saja keluarga atau teman di sekelilingnya sehingga dengan begitu ada
perasaan yang membangkitkan semangat untuk mau keluar dan belajar bermasyarakat
demi tercapainya masa depan yang menjanjikan. Manusia itu dilahirkan dalam
keadaan tidak mengetahui apapun, kemudian Allah swt. menugaskan manusia untuk
mencari tahu apa yang ada di sekelilingnya serta mempelajari setiap
perubahan-perubahan yang terjadi melalui panca indra. Sudah seharusnya sebagai
generasi muda untuk menerapkannya pada kehidupan sehari-hari dan mencintai
setiap proses yang terjadi. Sehingga sejak dini sudah tercipta suatu karakter
individu yang bisa menghadapi hambatan-hambatan yang suatu saat pasti akan
terjadi.
Melalui pendidikan dan pengajaran, berdampak pada akhlak yang baik. Apabila seseorang yang pada awalnya belum begitu mengetahui tentang ilmu agama, kemudian ia mempunyai niat untuk memperdalam ilmu agamanya dengan cara menuntut ilmu di sekolahan yang berbasis agama, maka dengan seiring berjalannya waktu ia akan mengerti tentang ilmu agama. Selain itu moralnya juga menjadi lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Kemudian ketika di dalam masyarakat ia sudah siap apabila di minta tolong untuk melakukan suatu hal yang berhubungan dengan agama. Pendidikan juga sebagai sarana untuk mempelajari aspek-aspek dalam kehidupan yang menjadikan para pemuda mempunyai dasar pemikiran yang kokoh. Karena dengan dengan itu seseorang menjadi terbiasa dalam berfikir secara kritis dan dengan dasar-dasar pendidikan agama Islam seseorang dapat berfikir secara jernih dan tidak bingung apabila menghadapi persoalan kehidupan. Dengan terwujutnya suatu karakter pada generasi muda akan berdampak positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya, dan menjadikan perubahan dalam masyarakat, yang dulunya sangat pasif, tidak mengetahui agama secara keseluruhan, dan berakhlak yang kurang, sekarang menjadi aktif dalam segala hal, berwawasan luas, berakhlak yang baik. Karena jika seseorang kepribadiannya masih sangat kuno, pasti akan banyak sekali masalah-masalah yang muncul yang mengakibatkan pertentangan antar individu atau antar kelompok. Mereka tidak bisa berfikir positif dan menjadi semena-mena dalam menentukan keputusan.
Islam memiliki rahasia di dalamnya. Islam membawa kebahagiaan dunia akhirat yang mempunyai dampak yang sangat baik bagi manusia. Islam menjelaskan setiap aspek-aspek dalam kehidupan. Seperti yang dijelaskan oleh (hafidz, kastolani, 2009:11) bahwa agama islam yang hanif merupakan pedoman dalam kehidupan, individu atau masyarakat, aspek material atau spiritual secara bersamaan. Islam memperjelas makna ibadah dan mempertegas nilai kerja, memperhatikan segala aspek kehidupan, mengatur urusan duniawi seluruhnya sebagai jalan satu-satunya menuju kehidupan akhirat.islam memperhatikan seluruh aspek kehidupan dengan berbagai aturannya. Baik aspek ekonomi, politik, pemerintahan, ilmu, kemasyarakatan dan lain sebagainya.
Hambatan-hambatan yang terjadi dalam kehidupan ini ada berbagai macam dan mungkin akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu, misalnya saja kesadaran yang masih sangat lemah, banyaknya pendidikan islam yang belum mengimplikasikan visi dan misinya secara nyata, yang dalam kegiatan di sekolah kurang menerapkan perilaku-perilaku yang telah di ajarkan pada agama islam. Banyak pula teknologi yang semakin maju yang mengakibatkan generasi muda menjadi terlena akan hal itu dan menjadikannya semakin malas untuk beraktifitas dan keluar melihat bagaimana keadaan sekitarnya, bahkan kurangnya motivasi yang mana sebenarnya merupakan faktor yang sangat penting. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Generasi muda harus pintar-pintar dalam melakukan suatu hal, mereka harus berfikir secara matang serta tidak melupakan akibat-akibatnya yang akan terjadi. Karena apabila para pemuda tersebut lalai dalam hal sekecil pun, maka akan mendatangkan suatu penyesalan yang besar nantinya. Maka untuk itu islam mengajarkan solusi-solusinya dari setiap hambatan-hambatan tersebut. Seperti islam mengajarkan kepada umat islam agar tidak berputus asa dalam menghadapi sesuatu dan anjuran untuk bersungguh-sungguh untuk mendapatkan apa yang di inginkannya sehingga apabila generasi muda mulai melemah semangatnya menjadi bangkit kembali karena telah mendapatkan ajaran agama islam tersebut. Pendidikan islam yang masih sangat minim dalam menerapkan visi dan misinya seharusnya meningkatkan upaya-upaya yang berhubungan dengan visi misi tersebut. Atau mungkin para guru lebih memperhatikan peraturan-peraturan dan memberi sangsi apabila ada siswa yang melanggar. Selain itu para guru juga menganjurkan kepada siswanya untuk berpakaian sopan selayaknya tuntunan agama Islam yang harus menutup aurotnya khususnya bagi putri. Para siswa juga perlu untuk diajari tentang bagaimana baca tulis Al-quran secara benar dan dijelaskan pula makna dari setiap ayat Al-Quran, dengan tujuan supaya siswa tidak menghiraukan kitabnya sendiri. Dalam hal ini peran generasi muda adalah selalu memperhatikan cara-cara mendidik siswa yang benar menurut ajaran agama Islam dan dapat diterima secara utuh oleh siswa serta ajaran tersebut dapat direalisasikan secara langsung karena telah mendarah daging dan tertanam dalam jiwa para siswa.
Manfaat pendidikan agama Islam utuk masa depan ada banyak sekali, khususnya apabila sudah berkeluarga, pendidikan tersebut berperan sebagai pengetahuan untuk mendidik diri sendiri dan keluarganya kelak, dalam bermasyarakat, dan juga sebagai perisai untuk cobaan-cobaan perkembangan zaman yang semakin beraneka ragam. Semua itu tidak akan berjalan lancar apabila tidak ada kekuatan iman yang mendasar pada diri generasi muda. Karena dengan iman, seseorang mempunyai pendirian yang akan mempertahankannya dari berbagai situasi dan kondisi yang akan terjadi. Seperti yang dijelaskan oleh (hafidz, kastolani, 2009:157) bahwa sesungguhnya pendidikan Islam merupakan model pendidikan yang telah menumbuhkan generasi beriman, siap mengorbankan dirinya, berkhidmat untuk masyarakat, dan memberikan kesenangan dan kebahagiaan kepada umat manusia, telah menunaikan peran yang istimewa dalam mentransfer nilai-nilai keislaman dan peradaban Islam dari generasi terdahulu kepada generasi mendatang dan dari generasi tua kepada generasi muda. Pendidikan Islam dan peradaban Islamharus bersama-sama sebagai satu kesatuan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif. Hendaknya kaum muslimin dapat menghadapi berbagai tantangan ini dengan sikap konsisten, baik sebagai individu, kelompok, bangsa dan masyarakat, Negara atau pemerintah sehingga dapat menunaikan amanah islam yang telah diamanatkan Allah swt.
Maka untuk itu pentingnya pendidikan agama Islam pada generasi muda ialah untuk mewujudkan cita-cita masyarakat Islam yang sesuai dengan perintah Allah swt. dan menanamkan Akhlakul Karimah sebagai bekal menuju jalan yang telah disiapkan oleh allah swt. untuk hamba-hambanya yang mau dengan ikhlas belajar sesuai dengan ajaran Islam.
sumber: Kompas siana
Senin, 21 Desember 2020
Upaya Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Di sekolah Umum
Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah umum sejak
sekolah dasar (SD), sampai perguruan tinggi mempunyai peranan yang sangat
strategis dan signifikan dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang
beriman, berilmu dan berkepribadian muslim sejati, dalam Undang Undang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pemberdayaan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki nilai dan sikap, sehat, berilmu
cakap,kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis, bertanggung
jawab. Untuk mewujudkan perlu perjuangan sungguh-sungguh melalui lembaga-lembaga
pendidikan. Sekolah umum merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki
tanggung jawab dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang jumlah jam
pelajaran 4 (empat) jam perminggu di SD dan 3 (tiga) jam perminggu di SMP dan
SMA/SMK. Dimana jumlah jam tersebut tidak menjamin sepenuhnya untuk dapat
mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, karena materi pembelajaran Pendidikan
Agama Islam sangat luar, kompleks dan universal. Dalam kehidupan keseharian kita
banyak sekali menemukan perilaku negatif yang ditunjukkan oleh peserta didik
diantaranya tawuran, terlibat pemerkosaan, hamil diluar nikah, pencurian,
perampokan, narkoba, pembunuhan dsb. Menurut tafsir (1996:21) ia mengatakan
bahwa kemerosotan akhlak banyak terjadi pada semua lapisan masayarakat, akan
tetapi dikalangan remaja lebih banyak, nyata dan terlihat. Perilaku tersebut
merupakan indikator belum optimalnya pendidikan agama Islam di sekolah dan
sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan khususnya guru pendidikan agama
Islam (PAI) untuk mencari model pembelajaran yang mempu menginternalisasi nilai
nilai ajaran Islam dalam diri peserta didik. Dalam pandangan beberapa penulis
bahwa setidaknya ada tiga alasan penting mengoptimalkan pendidikan Islam di
sekolah yaitu: Pertama, bahwa peserta didik aset terbesar umat Islam ada di
Sekolah, sebab jumlah generasi muda Islam di sekolah jauh lebih besar jika
dibandingkan dengan generasi muda Islam dan madrasah atau pesantren. Kedua,
alokasi mata pelajaran PAI yang diajarkan di sekolah sangat terbatas yang tidak
mungkin dapat menyelesaikan materi pembelajaran Agama Islam secara menyeluruh
dan utuh. Penanaman nilai nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari tidak akan
dapat dilakukan oleh guru PAI semata dengan alokasi waktu yang disediakan. Oleh
karena itu usaha optimalisasi mesti dilakukan secara terpadu. Ketiga, jika
pendidikan Agama Islam kurang mendapat perhatian di sekolah, maka dikhawatirkan
terjadinya dikotomi antara ilmu dan agama. Kelak mereka akan cerdas dan
menguasai sains, akan tetapi tidak dilandasi dengan keimanan yang kuat, kaya
intelektualitas tetapi miskin spiritualitas keagamaan. Akibatnya kecerdasannya
lebih mendatangkan kemudharatan dari pada kemashlahatan. Dan untuk mengatasi
persoalan tersebut, perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan pendidikan
Agama Islam di sekolah. Pelaksanaan pendidikan Agama Islam di sekolah masih
menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Banyak faktor penyebab keprihatinan
itu, antara lain pertama,dari segi jam pelajaran yang disediakan oleh sekolah
secara formal, peserta didik dikalkulasikan waktunya hanya 4 jam pelajaran
perminggu di tingkat SD dan 3 Jam perminggu di tingkat SMP/SMA untuk pendidikan
Agama. Coba bandingkan dengan mata pelajaran lainnya yang bisa mencapai 6 – 8
jam perminggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah hasil belajar yang
diperolehnya sangat minim dan terbatas. Namun itu bisa diperkecil dengan
kerjasama dari semua kalangan terutama dari tenaga pendidik yang terlibat dalam
proses pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan Agama adalah tugas dan
tanggung jawab bersama Semua guru, artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab
guru Agama saja melainkan juga guru-guru bidang studi yang lainnya. Guru-guru
bidang studi yang lain bisa mengintegrasikan pendidikan Agama ketika memberikan
pelajaran bidang studi. Dari hasil pendidikan Agama yang dilakukan secara
bersama-sama ini, dapat membentuk pengetahuan, sikap,prilaku dan pengalaman
keagamaan yang baik dan benar. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia,
perilaku jujur, disiplin dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk
meningkatkan kualitas dirinya. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui
penataan pendidikan yang baik. Upaya optimalisasi pendidikan agama Islam
diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia termasuk
penataan pendidikan Agama Islam. Gambaran umum tentang optimalisasi pendidikan
agama islam di sekolah belum memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualitas
pendidikan agama Islam di sekolah yang menjadikan agama sebagai benteng moral
bangsa. Kondisi ini dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu sumber daya guru.
Guru pendidikan agama Islam dibanyak tempat sering kali merasa bagaikan a sigle
singhter di tengah meda yang luas, mereka dihadapkan pada keadaan dan suasana
yang memang belum mendukung untuk menunaikan tugas dan tanggung jawab
pengabdiannya. Mereka terkesan puas hanya dengan menyampaikan sejumlah
pengetahuan tentang al Islami yang mencakup kegiatan hanya sebatas apa yang
digariskan dalam GBPP. Dimana mereka belum terpanggil untuk bertugas bukan hanya
sebatas menyampaikan apa yang tertulis dalam silabus. Guru PAI seharusnya tampil
menunaikan tugasnya bukan semata-mata didasarkan atas formalitas kewajibannya,
melainkan didorong oleh yang pertama-tama adalah panggilan jiwa dan kesadaran
nurani muslimnya untuk menyampaikan dan menghadirkan Al-Islam lebih banyak dan
lebih baik. Untuk itu diperlukan upaya dan usaha nyata melalui program terpadu
untuk meningkatkan jumlah dan mutu guru PAI di semua jenis dan jenjang
pendidikan Menurut Arifin (2000) Guru Indonesia dipersyaratkan mempunyai : (1)
Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap tekhnologi dan ilmu
pengetahuan. (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis
pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan
konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi dilapangan dan
bersifat ilmiah serta riset pendidikan hendaknya diarahkan kepada praksis
pendidikan masyarakat Indonesia. (3) Pengembangan kemampuan professional
berkesinambungan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus
dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek Pendidikan. Oleh karenanya
penugasan studi banding ke luar daerah dan bahkan ke luar negeri perlu dilakukan
sebagai salah satu contoh program peningkatan dan memperluas wawasan, dan masih
banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan pembelajaran yang lainnya. Oleh karena itu
upaya optimalisasi pendidikan agama Islam harus dilakukan dengan mengoptimalkan
fungsinya dan memaksimalkan program dan kegiatannya dengan upaya-upaya sebagai
berikut : 1.Kerjasama atar teman sejawat di sekolah Dalam pelaksanaan kegiatan
pembelajaran pendidikan agama akan berhasil dengan baik manakala adanya
kerjasama dengan semua pihak yang terkait diantaranya sejawat yaitu guru-guru di
tiap sekolah, dimana mereka ini adalah sejawat dan mitra guru PAI. Setiap guru
ssesungguhnya memikul amanah dan tanggung jawab untuk memperjuangkan tercapainya
tujuan pendidikan nasional sekalipun tanggung jawab formal dan pembidangan tugas
dibedakan. 2.Tersedianya Sarana pendukung Melengkapi sarana pembinaan agama
Islam di Sekolah. Untuk mendukung kegiatan pendidikan Islam di sekolah,
pendidikan agama memerlukan sarana penunjang yang akan memungkinkan
kegiatan-kegiatannya dapat dilaksanakan. Sarana yang dimaksud berupa sumber
belajar seperti buku-buku yang memadai, sarana labor agama dengan menyiapkan
perlengkapan yang menunjang materi pembelajaran, seperti perlengkapan shalat,
peralatan shalat jenazah, pelaralatan ibadah haji, peralatan thaharah, contoh
jenis-jenis binatang halal dan haram, dan sebagainya. Labor tersebut juga
dilengkapi dengan multimedia, seperti komputer, infokus dan sound system
sehingga CD pembelajaran PAI kesemuanya akan diperuntukkan bagi peserta didik
guna mendalami pengetahuan dan keterampilan keagamaan. 3.Dukungan dari
pihak-pihak yang berkompeten Apa yang dijelaskan diatas bermuara pada tanggung
jawab kita semua terutama dukungan kebijaksanaan dan pengaturan sttruktural dari
semua lini dan lapisan. Kita mengharapkan tumbuhnya gagasan-gagasan dan
rencana-rencana kegiatan nyata dari bawah, yaitu dari para guru dan sekolah
masing-masing juga dukungan oleh peraturan kebijaksanaan yang lebih kokoh dari
atas dan masyarakat luas agar dapat terlaksana dengan baik. 4.Menerapkan
pengintegrasian pendidikan Agama Islam ke dalam mata pelajaran umum. Program ini
sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1994 dengan program PWKG lalu
dikembangkan menjadi program peningkatan Imtaq atau dikenal juga dengan
integrasi IMTAQ dan IPTEK. Namun sejak awal tahun 2000, program ini tidak lagi
diterapkan dan mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal upaya
mengintegrasikan PAI ke dalam mata pelajaran umum akan menghilangkan dikotomi
antara ilmu dan agama. 5.Melakukan Evalusi Mengenai evaluasi pendidikan agama
Islam ini terkadang menjadi hal-hal yang di luar dugaan. Misalnya ada perserta
didik yang jarang sekolah, malas dan merasa terpaksa mengikuti pelajaran Agama,
tetapi ketika dievaluasi dia mendapat nilai yang lebih tinggi dibandingkan
dangan peserta didik yang rajin belajar agama. Artinya yang salah itu adalah
evaluasinya karena yang dilakukan hanyalah mengukur unsur kognitif saja. Tetapi
harus dievaluasi juga sikap dan praktik atau keterampilan (psikomotor). Evaluasi
ini sebetulnya menentukan status peserta didik tentang hasil belajarnya itu
apakah sudah mencapai tujuan yang ingin dicapai atau tidak. Kalau tujuan agama
itu adalah supaya peserta didik bisa menjalankan agama Islam dengan baik maka
evaluasinya harus sesuai, dan evaluasinya itu bukan hanya berkutat pada
kaidah-kaidah kognitif saja tetapi juga yang bersifat pratikal. Upaya
optimalisasi pendidikan agama Islam harus menjadi agenda pemikiran bagi guru
Pendidikan Agama Islam dan guru bidang studi lainya di sekolah-sekolah umum,
sehingga apa yang diharapkan dari tujuan Pendidikan Agama Islam itu sendiri bisa
terwujud.
Rabu, 08 Januari 2020
Pengertian Game Beserta Sejarah, Manfaat, serta Jenis-Jenis Game, Lengkap!
Kini, sudah bukan hal asing lagi apabila teknologi sangat mudah ditemui di berbagai aspek. Antara satu dengan lainnya, tentunya memiliki manfaat yang berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang bermanfaat untuk membantu atau meringankan pekerjaan manusia, menunjang edukasi, memberi hiburan, dan lainnya.
Game merupakan salah satu wujud nyata dari pemanfaatan teknologi. Dapat diketahui bahwa perkembangan game dari tahun ke tahun dapat dilihat luar biasa signifikan pengaruhnya terhadap masyarakat. Lalu, apa sih sebenarnya game itu?
Artikel ini akan mengulas mengenai pengertian game, sejarah, manfaat, serta jenis-jenis game. Yuk simak penjelasan di bawah ini.
Pengertian Game

Pengertian game jika diartikan secara bahasa (berasal dari bahasa Inggris) adalah permainan. Dengan bantuan teknologi, kini game dapat diartikan secara lebih luas lagi. Jadi, secara istilah pengertian game adalah permainan yang diprogram pada suatu perangkat yang dapat dijalankan secara offline maupun online.
Berdasarkan cara bermainnya, game dapat dijalankan pada perangkat yang tidak terhubung ke internet (offline) dan harus terhubung ke internet (online) untuk dapat mengakses suatu server yang terpusat. Oleh karena itu, pengguna tidak dapat bermain game online apabila perangkatnya tidak terhubung ke internet.
Adapun antara game satu dengan lainnya memiliki fungsi logika yang berbeda-beda. Hal ini pula yang membuat setiap game memiliki perintah dan data yang berbeda pula. Pada dasarnya, pengertian game ini bersifat sangat global. Dengan kata lain, game tidak hanya permainan yang dapat dijalankan oleh perangkat saja, melainkan juga dapat dimainkan secara tradisional.
Hal yang paling penting dari sebuah game adalah adanya suatu aturan yang dapat menuntun jalannya sebuah permainan. Dengan adanya peraturan dalam sebuah game, pemain yang berinteraksi dengan sistem dapat terlibat langsung pada situasi tertentu dengan pemecahan masalah yang tidak terlepas dari aturan yang telah dibuat.
Dalam sebuah game, ada pula sebuah goal atau target yang dapat dijadikan sebagai penentu pencapaian pemain. Meskipun pada awalnya game ini bertujuan sebagai bentuk hiburan dan proses refreshing atau penyegaran terhadap kegiatan yang penat, tetapi pada kenyataannya tak jarang permainan tertentu malah bisa menambah beban pemain.
Dapat dilihat, perkembangan game yang tentunya didukung dengan perangkat-perangkat canggih membuat pasar developer game semakin terbuka lebar. Hingga bisa dipastikan bahwa pada tahun-tahun berikutnya, publik akan terus dikejutkan dengan hadirnya games baru yang terus muncul di permukaan. Apalagi animo masyarakat yang sangat welcome terhadap game, membuat perkembangannya sangat pesat sekali dan sangat ditunggu kehadirannya.
Sejarah Game

Jika menilik perkembangan game pada zaman sekarang tentunya sudah sangat mudah dijalankan oleh berbagai platform yang tersedia. Meskipun teknologi pada zaman dahulu dibandingkan dengan zaman sekarang jauh berbeda, ternyata game sudah ada sejak dulu. Berikut ini merupakan uraian mengenai sejarah game.
Game Generasi I (1952-1975)
Siapa yang tidak mengenal game legendaris Tic-Tac-Toe? Ternyata game ini merupakan game generasi pertama yang dibuat di University of Cambridge sebagai tesis milik A.S. Douglas pada tahun 1952. Pada awalnya, game Tic-Tac-Toe ini diberi nama OXO, yaitu sesuai dengan animasi pada game tersebut. Namun, A.S. Douglas terus mengembangkan game ini hingga nama game tersebut diubah menjadi Tic-Tac-Toe yang kita kenal sekarang.
Pada tahun-tahun berikutnya, yakni tahun 1958 William Higinbotham membuat game bernama Tennis for Two. Ia sempat dibilang menjadi pencipta video game pertama serta salah satu game pertama yang menggunakan tampilan berupa grafis.
Selanjutnya sekitar tahun 1961, lagi dan lagi game dibangun oleh mahasiswa bernama Steve Russell. Game tersebut kemudian diberi nama SpaceWar. Game ini pula kerap dikatakan sebagai video game komputer digital generasi pertama. Hal inilah yang memulai pergerakan mahasiswa lainnya untuk memanfaatkan teknologi pada tahun 1966. Pada tahun itu pula muncul game yang bernama Chase yang dibangun oleh Ralph Baer.
Pada tahun 1971, dunia kembali dikejutkan dengan gebrakan dari Nolan Bushnell dan Ted Dabney yang membuat game Arcade SpaceWar yang bernama Computer Space. Setahun setelahnya, yaitu pada tahun 1972 keduanya merilis Magnavox Odyssey yang sempat meledak di pasar dunia. Tak lama setelah itu, pada tahun 1975 Nakamura Manufacturing (Namco) meluncurkan video game arcade bernama Pong.
Tahun-tahun inilah yang menggebrak dunia teknologi semakin menjadi raksasa dan memicu pertumbuhan games pada generasi kedua.
Game Generasi II (1976-1983)
Sejak dunia komputer memperkenalkan dengan mikroprosesor dengan arsitektur 4 bit atau 8 bit, para developer game tentu saja mulai memasuki sistem kecerdasan yang lebih baik lagi. Pada tahun 1976, dunia game digebrak lagi oleh Fairchild dengan membuat sebuah game bernama VES (Video Entertainment System). Pada tahun berikutnya, perusahaan Atari yang didirikan oleh Bushnell dan Dabney juga meluncurkan game konsol menggunakan catridge, yaitu VCS (Video Computer System) Atari 2600 yang sangat disambut antusias oleh dunia.
Pada tahun-tahun berikutnya, yaitu sekitar tahun 1980 dunia dihebohkan kembali dengan game Arcade 3D yang lagi lagi dibuat oleh Atari, yaitu Battlezone. Selain itu, Namco mengejutkan dunia dengan merilis Pac-Man dan Nintendo yang merilis Game and Watch seri video game handheld.
Tahun-tahun selanjutnya, developer game terus menghebohkan dunia dengan game-game yang terus disambut baik oleh dunia. Namun, pada tahun 1983 ternyata eksistensi konsol menurun dengan hadirnya PC yang semakin canggih kala itu.
Game Generasi III (1983-1986)
Meskipun dunia game sempat redup, ternyata pada akhir tahun 1983 dunia dikejutkan dengan konsol yang bernama Famicon/Nintendo yang menampilkan gambar dan animasi dengan resolusi yang cukup tinggi pada saat itu. Hal ini tentu saja karena prosesor 8 bit. Namun, siapa sangka game yang sangat menjadi primadona hingga sekarang, yakni game Super Mario ini meluas ke seluruh dunia.
Melihat peluang yang sangat menguntungkan, SEGA juga turut memperkenalkan video game mereka yaitu Dragon’s Lair. Tidak heran jika pada tahun 1984 terjadi persaingan antara konsol Nintendo dan SEGA yang memang mendominasi video game saat itu. Tahun-tahun berikutnya pula, SEGA terus bersaing dengan Nintendo.
Game Generasi IV (1988-1993)
Game Generasi IV (1988-1993)
Pada generasi keempat ini, perkembangan game semakin bagus, baik dari segi suara, tampilan, maupun grafik. Hal ini tentu saja karena didukung oleh prosesor dengan 16 bit. Lagi dan lagi Nintendo dan SEGA terus saling menghajar pasar dengan mengeluarkan jenis-jenis konsol lainnya.
Pada tahun 1990, keduanya sama-sama mengeluarkan konsol baru kembali. SNES (Super Nintendo Entertainment System) yang dikeluarkan oleh Nintendo dan Sega Megadrive yang dikeluarkan oleh SEGA.
Pada tahun 1991 pula, SEGA mencuri perhatian gamer dengan merilis game Sonic the Hedgehog yang akhirnya dapat mengalahkan pesaingnya, yakni Super Mario dari Nintendo. Namun, pada tahun 1992 Nintendo kembali bangkit dengan game Donkey Kong Country dan lagi-lagi SEGA meluncurkan game Vectorman.
Game Generasi V (1994-1999)
Pada generasi keempat ini merupakan game dengan prosesor 32 bit. Pada tahun 1994, Perusahaan Atari meluncurkan konsol Jaguar. Namun, dengan hadirnya konsol berbasis CD yang dikeluarkan oleh Sony pada saat itu membuat dunia konsol semakin tergantikan dengan adanya CD.
Hal inilah yang membuat salah satu dunia game sempat jatuh. Meskipun begitu, pada tahun 1996 Nintendo kemudian merilis Nintendo 64 dengan game Super Mario 64, Tomb Raider, dan lainnya.
Setahun setelahnya, Sony menggebrak dunia kembali dengan konsol game yang bernama playstation. Sudah bisa ditebak, konsol berbasis CD ini sukses menjadi konsol terlaris hingga kini.
Game Generasi VI (2000-sekarang)
Tidak ingin meredup, SEGA memperkenalkan konsol 128 bit pertama, yakni SEGA Dreamcast yang bekerja pada Microsoft Windows CE. Hal ini sempat membuat SEGA eksis lagi di dunia Game. Namun, hal tersebut tidak lama. Tahun 2000, Sony merilis Playstation2 dengan video game 128 bit juga dengan DVD player.
Tahun 2001, Microsoft tak mau kalah mengejar, ia meluncurkan konsol game baru yang bernama XBox. Sedangkan Nintendo tetap tidak surut dengan merilis GameCub yang menggunakan cakram optis DVD mini. Selanjutnya, Nintendo juga merilis konsol genggam Gameboy Advance dan Nintendo DS.
Tahun 2004, Sony bersaing dengan Microsoft yang terus berkembang. Pada tahun ini pula Sony merilis PSP (PlayStation Portable). Namun, tahun 2005 Microsoft terus berkembang dengan XBox360. Pada tahun berikutnya, Sony mengeluarkan Playstation3. Pada generasi inilah, pasar didominasi oleh Sony dan XBox.
Manfaat Game

Adapun manfaat dari bermain game adalah sebagai berikut.
1. Hiburan
Manfaat pertama ini merupakan manfaat utama dari sebuah game. Beberapa game memang diketahui dapat menghilangkan penat yang disebabkan oleh rutinitas sehari-hari yang dilakukan. Hal inilah yang membuat game dapat menjadi sarana hiburan karena terdapat interaksi antara pemain dengan sistem. Hal ini tentunya berkat dukungan grafis, suara, maupun aspek lainnya.
2. Mengasah Otak
Meskipun sebagian orang menganggap bermain game adalah membuang-buang waktu, ternyata manfaat game yang kedua ini malah bisa bermanfaat bagi otak. Setiap game tentunya memiliki peraturan dan logika yang harus dipecahkan oleh pemainnya. Nah, hal inilah yang membuat otak pemain harus benar-benar berpikir untuk memecahkan masalah yang terdapat di dalam game tersebut.
3. Melatih Emosi
Tidak hanya dapat mengasah otak, ternyata game juga dapat melatih emosi. Pada saat pemain berada dalam situasi memecahkan masalah atau konflik maka secara tidak sadar pemain juga melatih emosinya.
4. Mengembangkan Kemampuan Diri
Berbagai kemampuan diri juga dapat ditemukan pada saat bermain game. Bahkan kemampuan diri juga dapat terus berkembang seiring waktu. Misalnya, berbahasa Inggris, memecahkan problem solving, membangun kerja sama tim (multiplayer), mendapatkan pengetahuan baru (khususnya game edukasi), dan lain sebagainya.
5. Menyeimbangkan Koordinasi Tubuh
Manfaat kelima ini tidak hanya berguna bagi anak-anak saja, melainkan untuk orang dewasa maupun lansia. Interaksi antara mata, otak, serta tangan dapat membantu menyeimbangkan kerja sama antara anggota tubuh. Tentu saja hal ini dapat membuat kecepatan berpikir, melihat, serta bergerak menjadi lebih cepat dan terarah.
Jenis-Jenis Game

Sejak game dari generasi pertama hingga sekarang, tentunya sudah sangat banyak jenis-jenis game yang telah beredar.
Berdasarkan alat atau platform yang digunakan, jenis game terbagi menjadi lima, yaitu:
1. Arcade Games
Pada jenis arcade game ini, alat atau platform yang digunakan memiliki box atau mesin yang didesain khusus kebutuhan game itu sendiri. Misalnya game untuk menembak maka disediakan juga pistol yang membantu pemain seolah-olah berada di dalam game tersebut. Atau dengan setir tambahan untuk game balap mobil.
2. Console Games
Game jenis ini menggunakan alat berupa console yang dimainkan pada game playstation, Nintendo Switch, Xbox 360 dan lainnya. Consol game ini penampil grafiknya tetap monitor namun alat pengendalinya membutuhkan joystick atau controller. Jadi, antara joystick dengan monitor biasanya terpisah.
3. Handheld Games
Jika game console membutuhkan bantuan monitor untuk menampilkan grafik atau video game, pada handheld ini sudah tersedia monitor dengan alat pengendali bisa berupa tombol yang bergabung. Sehingga, jenis game handheld ini dapat dibawa ke mana-mana karena perangkatnya terbilang cukup kecil dibandingkan monitor. Contoh yang paling populer ialah game tamagotchi.
4. PC Games
Game yang menggunakan platform PC atau personal computer ini tentunya game yang dapat dimainkan menggunakan PC. Alat pengendalinya dapat berupa mouse, keyboard, atau bahkan joystick.
5. Mobile Games
Game yang menggunakan platform ini merupakan game yang sedang digandrungi oleh semua orang. Pasalnya, game dengan mudah diinstall dan dimainkan di perangkat mobile. Game pada mobile ini juga terbagi menjadi dua lagi, yaitu game yang dapat dimainkan secara offline maupun secara online. Contoh game yang populer ialah mobile legend.
Berdasarkan genre atau tipe, jenis game terbagi menjadi 8, yaitu:
1. Action
Game yang memerlukan refleks, akurasi, serta waktu yang tepat untuk menyelesaikan tantangan. Contoh game adalah Spy Hunter, Legend of Kage, Road Rash, dan lainnya.
2. Fighting
Game ini merupakan pertarungan yang membutuhkan skill dalam mengenali kelebihan lawan dan menghafal jurus-jurus. Contoh game adalah Street Fighter, Mortal Kombat, King of Fighter, dan lainnya.
3. Racing
Game ini membutuhkan keterampilan mengemudi dalam dunia game untuk memenangkan suatu kompetisi balapan. Contoh game adalah Need for Speed, Juiced, dan lainnya.
4. Sports
Seperti namanya, game ini membutuhkan keterampilan pemain dalam menguasai peraturan olahraga. Contoh game adalah Soccer, basket, dan lainnya.
5. Role Playing Game
Game ini membutuhkan pemain sebagai tokoh utama untuk memecahkan suatu masalah. Contoh game adalah Star Ocean, Ultima, dan lainnya.
6. Adventure
Game ini mengajak pemain untuk melakukan petualangan sembari menyelesaikan misi atau melewati rintangan atau masalah. Contoh game adalah Dragons Lair, Monkey Island, dan lainnya.
7. Strategy
Pada game ini pemain membutuhkan sebuah strategi yang dapat membantu untuk memecahkan masalah. Contoh game adalah Warcraft, Master of Orion, dan lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
TEORI PERKEMBANGAN SIGMUND FREUD DAN KRITIKNYA
Muhammad Rifqi Arif 191310004235 4 pai a8 PENDAHULUAN Sigmund Freud lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Frieberg, kota kecil, di daerah Monar...
-
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Pendidikan menjadi salah satu fokus utama disetiap negara, untuk memperoleh pendidikan yang b...
-
Kini, sudah bukan hal asing lagi apabila teknologi sangat mudah ditemui di berbagai aspek. Antara satu dengan lainnya, tentunya memiliki ma...
-
https://drive.google.com/file/d/1Dkz06zirQ2x4uEh37WBr8KQbbFuE59l1/view?usp=drivesdk