Minggu, 13 Juni 2021

Psikologi perkembangan anak

Muhammad Rifqi Arif

191310004235

4pai a8



PENDAHULUAN


Mendambakan sesuatu yang baik dan sempurna memerlukan adanya  proses yang cukup panjang untuk mewujudkannnya. Misalnya tumbuhan, untuk menjadikan tumbuhan itu tumbuh segar dan subur, maka tidak terlepas dari pemeliharaannya sejak awal yakni bermula dari memilih bibit, menanam, merawat, dan membesarkannya hingga kemudian dapat dipetik hasilnya.Sama halnya ketika orang tua menginginkan anaknya sehat, pintar dan berbakat. Hal ini tidak terlepas dari adanya upaya maksimal untuk mendapatkannya melalui proses panjang yang tidak mudah. 

Pertama, menentukan pasangan hidup secara selektif sebagai sarana penentu bagi terciptanya bibit manusia produktif yang dapat memberikan kemanfaatan dalam kehidupan sosial. 

Dengan selektifitas itu pula akan dengan mudah untuk berkomitmen dalam  menjaga keutuhan keluarga. Senada dengan penjelasan Agoes Dariyo, yang  terpenting dalam pernikahan adalah upaya mempertahankan keutuhan hubungan pasangan suami istri dan memelihara anak-anak sampi tumbuh menjadi orang yang dewasa dan bertanggung jawab. (Agoes Dariyo, 2007:69) Jika seleksi itu tidak dilakukan, bisa saja perceraian akan terjadi  disebabkan adanya ketidak-cocokan di antara keduanya. Tentu hal ini akan sangat berpengaruh terhadap terhadap proses perkembangan anak. Perceraian (divorce) hanya menambah masalah, karena setelah orang tua bercerai biasanya anak-anak menjadi terlantar dan tidak terurus dengan baik. Anak akan menderita secara psikologis, sedih, kecewa, depresi dan tidak nyaman hidup di tengah masyarakat. (Ali Qoimi, 2002:30)

Oleh karenanya, orang tua wajib melaksanakan hak dan kewajiban sesuai perjanjian yang telah disetujui bersama dan menjaga agar rumah tangga terhindar dari berbagai guncangan serta menyiapkan sarana bagi pertumbuhan, perkembangan dan kebahagiaan anak-anak. 

Kedua, memahami proses kehamilan dan perubahan-perubahan pada anak baik secara fisik maupun psikis agar tidak menimbulkan hal-hal yang  dapat menghambat pertumbuhannya selama masa penentuan itu dan memiliki kesiapan mental terutama bagi sang ibu untuk menciptakan kebiasaan-kebiasaan  positif di saat kehamilannya.

Berkaitan dengan hal itu, Ubes Nur Islam berpendapat bahwa yang lebih penting bagi orang tua, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan pralahir, yaitu bahwa bayi pralahir memiliki potensi besar untuk menerima dan menggapai semua stimulasi dan sensasi yang diberikan oleh orang tuanya. (Ubes Nur Islam, 2007:25)

Ketiga, mapan secara finansial untuk memenuhi kebutuhan si kecil baik gizi, pakaian dan segala sesuatu yang bisa menjamin kenyamanan hidup anak. Kebutuhan penting dan awal bagi manusia sejak masa kelahiran sampai kematiannya adalah kebutuhan jasmani, boleh jadi seseorang yang tak dapat merasakan keceriaan masih dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang, meskipun tak kan sempurna, akan tetapi jika kebutuhan jasmaninya tidak terpenuhi maka ia taka kan mampu melangsungkan kehidupannya. (Ali Qoimi, 2007:107)




BAB II

PEMBAHASAN

A. sebagai karunia dari Allah yang sekaligus merupakan amanah, harus diapresiasi dengan rasa syukur mendalam yang diimplementasikan dalam bentuk ketulusan merawat dan membimbingnya menjadi pribadi tangguh, memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan agar tertanam di dalam dirinya keimanan yang kuat untuk meyakini sepenuhnya terhadap adanya sang pencipta seluruh alam beserta keajaiban-keajaibannya. Tiada sesuatu pun yang diciptakan oleh Allah yang tidak memiliki orientasi jelas dalam rangkaian fenomena kehidupan ini, melainkan terdapat tujuan yang dapat mendukung terhadap bergulirnya kehidupan sesuai dengan kebutuhan masing-masing ciptaan yang ada di alam semesta ini. Misalnya manusia, ia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kapasitas kemuliaan yang lebih dibandingkan dengan makhluk lainnya, disebabkan ia memiliki akal sehingga ia diamanahi untuk mengurusi alam sebagai upaya menstabilkan kondisi alam tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur‟an di saat Dia berkomunikasi dengan para malaikat :

Perkembangan Janin Masa Konsepsi Perkembangan pada manusia dimulai pada saat konsepsi atau pembuahan,  yaitu pada pembuahan telur oleh spermatosoma. Bila spermatosoma laki-laki memasuki dinding telur (ovum) wanita, terjadilah konsepsi.

Helda Nur Ania Psikologi Perkembangan Anak Jurnal Pendidikan Islam Al I‟tibar,(Vol.2,No.1), h.38-55 41

Artinya: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau? “Allah berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui”(Q.S. Al-Baqarah: 30).

Jika dibahas dalam tiga tahap (tahap geminal, tahap embrio dan tahap fetus) seperti, maka perkembangan janin tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Aliah B. Purwakania Hasan (Purwakania Hasan, 2007:76-78) adalah sebagai berikut:

  • Tahap Germinal (Pra-embrionik)

Tahap germinal atau tahap praembrionik merupakan awal dari  kehidupan manusia. Proses ini dimulai ketika sperma melakukan penetrasi terhadap telur dalam proses pembuahan, yang normalnya  terjadi akibat hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, pada tahap ini zigot dibentuk.

  • Tahap Emrbrio

Tahap kedua, yang disebut tahap embrio, berlangsung lima setengah minggu. Tahap embrio mulai ketika zigot telah tertanam dengan baik pada dinding rahim. Dalam tahap ini, sistem dan organ dasar bayi mulai terbentuk dari susunan sel. Meskipun bentuk luar masih jauh berbeda disbanding kan manusia dewasa, beberapa bentuk seperti mata dan tangan, bahkan telinga dan kaki mulai dapat dikenali.

  • Tahap FetalM

Memasuki tahap ketiga dari dari kehamilan, embrio disebut fetus. Tahap ini berlangsung sekitar 30 minggu, mulai dari minggu kedelapan kehamilan dan berakhir sampai saat lahir. Dalam tahap ini, wajah, tangan, dan kaki dari fetus mulai terlihat berbeda dan fetus tampak dalam bentuk manusia. Selain itu, otak juga telah terbentuk, dan mulai menjadi lebih kompleks dalam beberapa bulan. Dalam tahap fetal bentuk manusia telah dapat dikenali, berbeda daripada tahap embrio yang lebih  menyerupai segumpal daging. 

  • Perkembangan Anak

Mengenai perkembangan anak, Ibnu Qayyim memulai menjelaskannya dari kondisi bayi yang masih dalam keadaan lemah, di mana bayi mengalami keadaan yang sama sekali baru ia hanya bisa menangis setelah berbulan-bulan berada di dalam rahim ibunya. Menurutnya keadaan lemah itu dialaminya dikarenakan terpisahnya ia dari kebiasaan dan

harmonis dengan sang anak. Seorang bapak yang agung akan mendekap anaknya, mencium dan bercanda dengannya, serta sabar atas kesalahan anaknya. Dan sikap keduanya (bapak dn ibu) itu harus dilakukan dalam kerangka mencari keridhaan Allah.

Membiasakan anak dengan etika yang baik (Berakhlaqul Karimah)

Memilih dan menerapkan pola pengasuhan (parenting style) adalah penting dilakukan oleh orang tua untuk pengembangan kepribadian diri pada anak dalam keluarga. Agoes Dariyo menyatakan, masing-masing keluarga dapat memilih jenis pola pengasuhan yang sesuai dengan karakteristik keluarganya sendiri, tetapi hal yang terpenting dalam pengasuhan terhadap anak-anak adalah menggunakan aspek komunikasi dua arah antara 

orang tua dengan anak-anakPendidik terpenting bagi anak adalah orang tua, orang tua adalah orang dewasa dimana mereka harus menyesuaikan diri mereka dengan 

  • pribadi anak. 

Menerima watak anak dan memahami bentuk-bentuk perilaku anak dan menghasilkan kesesuaian, empati antara orang tua dan anak. Anak merupakan amanah bagi orang tua. Allah menjadikan manusia dengan target manusia beribadah pada-Nya dan menjadi khalifah di muka bumi. Oleh karena itu peran seorang pendidik adalah sosok arsitektur pembentuk jiwa dan watak anak didik yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa serta membangun segala potensi anak didik dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.

  • Hakikat Perkembangan

Term ini merupakan inti pokok ulasan mengenai perkembangan manusia yang dianalisis secara tajam oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Sebuah ajakan kontemplatif yang patut diapresiasi sebagai sandaran pemahaman untuk menemukan hakikat diri setiap manusia; dari apa dan untuk apa ia diciptakan, serta kemana ia akan dikembalikan.Piaget dengan teori yang dicetuskannya yaitu teori kognitif yang didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Dengan kemampuan kognitif ini, maka anak tempat sebelumnya. Berpandangan pada hal tersebut, penulis juga ingin menukil pendapat Zulkifli, bahwa bayi yang baru lahir merupakan makhluk kecil yang tidak berdaya; kelangsungan hidupnya bergantung pada belas kasihan dan pertolongan orang lain. Untuk kelangsungan hidup itu, alam membekali dua kepandaian yang disebut insting yaitu insting mengisap dan menangis. (Zulkifli, 2006:6)F.J. Monk, A.M.P., Knoers, dan Siti Rahayu Hadinoto juga menjelaskan bahwa bayi yang baru dilahirkan menunjukkan banyak gerak refleks. Masa ini kurang ada perkembangan psikologis yang menarik karena anak hanya melakukan tingkah laku -tingkah laku yang instinktif. 

Penelitian-penelitian dilakukan mengenai tingkah laku instinktif apa saja yang dilakukan oleh anak pada hari-hari pertama sesudah dilahirkan. Diketemukan bahwa 7% waktunya digunakan untuk maka, jadi reaksi yang positif, 1% untuk tingkah laku spontan dan kurang lebih 88% untuk tidur atau semacamnya. Hal inilah yang menyebabkan bahwa periode ini dulu disebut sebagai periode tidur. (FJ Monk, 2008:59-60)


Hal-Hal yang Mengiringi Perkembangan Anak

Anak dalam perkembangannya memerlukan contoh, dalam Islam percontohan yang diperlukan itu disebut uswah hasanah, atau keteladanan. Keteladan ini pertama kali diperoleh dari lingkungan keluarga. Biasanya seorang anak akan mencontoh perbuatan orang terdekat, orang yang dicintai, orang yang dikagumi, atau orang yang memiliki kewibawaan. (Ahmad Kholil, 2006:380)Ibnu Qayyim yang tercatat sebagai ulama mahir di segala bidang, pun menjelaskan kewajiban orang tua dalam mendidik anak-anaknya, sedemikian rinci tugas pokok orang tua dalam mendidik anak telah diuraikannya, oleh karena dalam uraian ini terdapat beberapa kesamaan maka penulis akan menyederhanakannya menjadi beberapa sub pokok bahasan, yaitu:

Mendidik anak dengan kasih sayang

Ibu yang mulia akan mendidik anaknya melalui kelembutan senyum, tatapan dan bisikannya, yang dengannya ia membangun hubungan yang

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak perspektif 

Ibnu Qayyim Al-Jauziah

Anak dalam perkembangannya mempunyai tugas yang sama dengan usianya. Namun realita dan praktek perkembangan anak berbeda-beda antara anak satu dengan yang lain. hal ini disebabkan perbedaan intelegensi, kepribadian, keadaan jasmani, keadaan sosial, bakat dan minat anak itu. Oleh karenanya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah-selain develop mentaliskontemporer- juga memberikan penjelasan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Ulasannya adalah sebagai berikut:

  • Faktor hereditas dalam perkembangan anak

Dari penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengenai pengaruh hereditas, penulis memahaminya bahwa gagasan Ibnu Qayyim memiliki keterkaitan yang erat dengan developmentalis modern yaitu Schopenhauer yang merumuskan bahwa hereditas (totalitas sifat-sifat karakteristik yang dipindahkan dari orang tua ke anak keturunannya) memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan perkembangan tingkah laku seseorang. Yang kemudian aliran ini dikenal dengan sebutan nativisme.M. Jindar Wahyudi pun menjelaskan, bahwa sifat-sifat dan ciri-ciri dari orang tua yang menurun secara genetika kepada anak-anaknya sangat banyak macamnya, namun kadang-kadang muncul sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak berasal dari orang tuanya sendiri tetapi muncul dari jalur ke atas keturunan kedua orang tuanya. (M.Jidar Wahyudi, 2006:82-83)

  • Faktor lingkungan dalam perkembangan anak

Anjuran Ibnu Qayyim agar dalam mengiringi proses perkembangan, setidaknya anak ada dua hal yang bisa dilakukan oleh orang tua, yaitu:

Melantunkan adzandi telinga kanan anak yang baru lahir dan iqomah di telinga kirinya

Berdasarkan penjelasan Ibnu Qayyim, bahwa mengumandangkan adzan pada telinga kanan bayi, yakni suara adzan itu menjadi seruan awal kepada Allah, kepada agama Islam, dan ibadah untuk Allah, untuk mendahului seruan yang dihembuskan setan. Sehingga fitrah yang menjadi pola dasar penciptaan manusia tidak didahului oleh perubahan yang dibuat setan. Atau untuk menghindarkannya dari perubahan yang direncanakan setan, atau untuk hikmah-hikmah lain.

Member nama yang baik pada anak

Dalam hal ini Ibnu Qayyim memberikan penjelasan, bahwa secara kejiwaan orang yang punya nama yang baik akan malu dengan namanya sendiri. Akibatnya, pengaruh namanya akan membawanya untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan tuntutan namanya dan menjauhi amal perbuatan yang berlawanan dengan nafas nama tersebut.

  • Faktor ketentuan Allah dalam perkembangan anak

Faktor inilah yang memantau dan menjaga besarnya kekuatan alam dan pengasuhan yang memengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. Hal ini dapat diterapkan pada semua aspek perkembangan. 

Contohnya, perkembangan kognitif bukan semata-mata produk warisan genetik, ataupun semata-mata produk lingkungan. Sebab pada prinsipnya, ia merupakan kehendak dan kekuatan Allah. Sehubungan dengan hal ini, hereditas dan lingkungan 

merupakan media di mana Allah menunjukkan kecenderungan pola dari perkembangan individu. Dengan demikian, kedua faktor ini memiliki batasan dalam memengaruhi kecenderungan psikologi seseorang secara keseluruhan, batasan tersebut telah ditentukan oleh Allah.




BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah penulis lakukan maka terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Psikologi Perkembangan Anak Perspektif Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Tuhfatul Maudūd bi Ahkāmil Maulūd merupakan psikologi perkembangan yang mengkaji aspek perkembangan manusia khususnya anak dalam perspektif Islam. Dengan demikian, secara umum psikologi perkembangan yang digagas oleh Ibnu Qayyim memiliki kesamaan objek studi dengan psikologi perkembangan, yaitu proses pertumbuhan atau perubahan manusia. Namun, jika psikologi perkembangan membatasi penelitiannya pada objek material saja, maka melalui studi literatur keagamaan, psikologi perkembangan perspektif Ibnu Qayyim ini dapat memperluas ruang lingkup penelitiannya pada kehidupan yang bersifat transendental.

Berbeda dengan psikologi perkembangan lainnya, psikologi perkembangan perspektif Ibnu Qayyim secara fundamental memandang manusia sesuai dengan citranya sebagai khalifah Allah di muka bumi, seperti yang diterangkan dalam al-qur‟an dan hadits sebagai landasan berpikirnya. Misalnya dalam psikologi perkembangan modern, tingkah laku manusia dikaji dan diperlakukan dengan sudut pandang materialistik Barat. Melalui cara ini, manusia secara fundamental dilihat sebagai makhluk materi. Sedangkan spiritualitas atau komponen di dalamnya kurang dihargai atau bahkan diabaikan sepenuhnya. Pengabaian komponen spiritual pada manusia dianggap menjadi perlu karena keberadaannya tidak dapat memenuhi standar empirisme yang kaku, yang menuntut keakuratan dan presis ilmiah.

Psikologi perkembangan perspektif Ibnu Qayyim juga membahas faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.






DAFTAR PUSTAKA


Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim, 2001, Tuhfatul Maudūd bi Ahkāmil 

Maulūd, Beirut: Dar al-kitab al-‟Arabi.

Departemen Agama Republik Indonesia, 2002, Al-Qur’an dan 

Terjemahannya, Surabaya: Penerbit Al-Hidayah.

Dewantara, Ki Hadjar, 1962, Bagian Pertama: Pendidikan,Jokjakarta: 

Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Jindar Wahyudi, M., 2006, Nalar Pendidikan Qur’ani, Yogyakarta: Apeiron Philotes.Kholil, Ahmad, 2006, Jurnal “el-Harokah” Studi Islam dan 

Kebudayaan, Manusia di Muka Cermin Ibnu Arabi,tk: t.p, vol.63.

Moleong, Lexi J., 1989, Metodologi Penelitiaan Kualitatif,Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Monk, F.J. dkk., 2002, Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam 

berbagai bagiannya,Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mujib, Abdul, 2006, Kepribadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.____ dan Mudzakir, Jusuf, 2002, Nuansa-nuansa Psikologi Islam,

Jakarta: PT Raja Grafindo.

Musthofa,Yasin, 2007, EQ untuk anak usia dini dalam pendidikan 

Islam,Yogyakarta: Sketsa. Nur Islam, Ubes, 2007, Mendidik Anak dalam Kandungan : 

Optimalisasi Potensi Anak Sejak Dini, Jakarta: Gema Insani, cetakan kelima. 

Pribadi, Sikun, 1981, Menuju Keluarga Bijaksana, Bandung: Yayasan 

Sekolah Isteri Bijaksana. Purwakania Hasan, Aliah B., 2006, Psikologi Perkembangan Islami, 

Menyingkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga 

Pascakematian, Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Qaimi, Ali, 2002, Menggapai Langit Masa Depan Anak, Bogor: Penerbit 

Cahaya.Santoso, Mudji, 1996, Hakekat, Peranan, dan Jemis-jenis Penelitian 

pada Pembangunan Lima Tahun Ke VI, dalam Imron Arifin (ed.), Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan, 

Malang: Kalimasahada.Sholeh, Moh., 2008, Bertobat Sambil Berobat, Rahasia Ibadah Untuk 

Mencegah dan Menyembuhkan Berbagai Penyakit, Jakarta: Penerbit Hikmah.

Zainuddin, M., 2004, Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, 

Yogyakarta: Pustaka Pesantren.Zulkifli L., 2006, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sabtu, 06 Februari 2021

Radikalisme Pendidikan Agama Islam dan Solusinya

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Pendidikan menjadi salah satu fokus utama disetiap negara, untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas baik dibutuhkan guru-guru yang profesional dan kompeten dalam bidangnya masing-masing, maka setiap negara mewajibkan pendidikan kepada masyarakatnya agar kebutuhan perkembangan teknologi maupun modernisasi terpenuhi, sehingga disetiap negara berlomba lomba dalam memperbaiki kualitas pendidikannya. Indonesia salah satu negara yang memfokuskan perubahan serta pembaharuan dalam pembangunan bangsa. Di sektor pendidikan, pemerintah pun sangat serius memperhatikan pendidikan sehingga disepakati anggaran pendidikan pada APBN teralokasi 20%, di tahun 2020 mengalami peningkatan jumlah anggaran sekitar 2,7% yaitu 505,8 Triliun rupiah. Besarnya nilai anggaran pendidikan pada indonesia adalah bukti komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, perubahan regulasi pun diikut sertakan untuk mempermudah setiap instansi pendidikan berbasis negri maupun swasta yang pada hari ini masing-masing instansi pendidikan berlomba lomba memperbaiki kualitas pendidikannya dalam ruang lingkup sederhana bernama Sekolah baik dasar, menengah, atas bahkan sampai universitas. Karna pemerintah sangat paham betapa pentingnya pendidikan pada suatu bangsa, kemajuan suatu bangsa dapat dinilai dari kualitas pendidikan itu sendiri. Sebagaimana undang undang dasar tahun 1945 pasal 1 nomor 20 tahun 2003 yang menjelaskan tentang pendidikan nasional, "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu pemahaman mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara". Namun banyak persoalan-persoalan yang mucul dibalik keseriusan pemerintah didalam meningkatkan kualitas pendidikan tersebut baik dari persoalan kesejahteraan guru, dan pemerataan pendidikan kepada semua golongan masyarakat dan kesadaran masyarakat itu sendiri terhadap pentingnya pendidikan bagi dirinya. Akan tetapi ada masalah utama yang sedang dihadapi bangsa ini yaitu pendidikan menajadi lahan subur terhadap paham radikalisme. Karna radikalisme adalah gerakan yang sangat sistematis dan terukur yang ingin merubah radikalis sampai ke akar-akarnya, menurut mentri Koordinator bidang politik hukum dan keamanan Prof. Mahfud Md menyatakan bahwa "radikalisme adalah satu paham yang ingin mengganti dasar ideologi negara dengan cara melawan aturan kemudian merusak cara berfikir generasi baru baik itu agama islam atau bukan agama islam jika melakukan aksi teror itu disebut radikal". Indonesia telah menghadapi banyak aksi terorisme dan bahkan tak heran banyak aksi radikalime atau terorisme yang dilakukan oleh pemuda bahkan anak-anak, yang disebabkan oleh pendidikan formal yang menganut paham radikalis. Pemerintah pun mulai mengatur regulasi-regulasi yang bisa membatasi persoalan radikalisme, doktrinisasi radikalisme pada pendidikan tak bisa dihindarkan, penentuan kurikulum dan latar belakang guru serta lemahnya kebijakan kepala sekolah bisa menjadi sebab tumbuhnya paham radikal. Anak anak menjadi sasaran utama pada paham radikal karna mudahnya mendoktrinisasi, sehingga pendidikan menjadi tempat penanaman paham-paham yang tak sesuai dengan syara' menjadikan negara sebagai musuh, bertolak belakang dengan undang-undang dasar 1945 dan menjadikannya sebagai satu point untuk membenci negaranya, membenturkan agama dan menjadikan anak anak dan pemuda sebagai bibit-bibit yang tumbuh atas dasar paham radikal. Selain itu kelemahan instansi pun penyebab munculnya paham ini, yang seharusnya protokol pemerintah menjadi bahan acuan utama serta ketegasan kepala satuan pendidikan dapat dengan cepat mecegah paham radikal berkembang sehingga dengan sendirinya paham ini dapat dengan mudah hilang dari instansi pendidikan. Maka perlu langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan dalam mencegah pertumbuhan pemahaman yang bertentangan denga syara' atau paham radikalisme dalam dunia pendidikan yang bukan hanya tugas pemerintah saja tapi setiap kepala satuan pendidikan bahkan masyarakat pun harus ikut andil dalam mencegah pemahaman ini.

Link Ppt Muhammad Rifqi Arif

https://drive.google.com/file/d/1Dkz06zirQ2x4uEh37WBr8KQbbFuE59l1/view?usp=drivesdk

Kontribusi Sarjana Pendidikan Agama Islam Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Assalamu’alaikum wr. wb. Bismillah alhamdulillah wa shollatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad bin Abdillah, wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’iin. Seperti yang kita tahu, sistem pendidikan memiliki dua tonggak inti yaitu keberadaan pendidik dan peserta didik. Berbagai pola pun disusun dan dirembukkan sedemikian rupa demi terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri, memiliki integritas dan intelektualitas yang mumpuni. Dalam penggalan UUD 1945 alenia keempat terdapat kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Maka dari itu, menciptakan masyarakat yang cerdas merupakan salah satu tujuan dari negara Indonesia, mengingat bangsa kita memiliki SDA yang melimpah ruah, tetapi tidak diimbangi dengan SDM yang berkualitas. Lalu bagaimana caranya menciptakan SDM yang berkualitas tanpa harus susah-payah menggunakan tenaga kerja asing? Jawaban ada di dalam pendidikan. Namun, apakah pendidikan bisa menjamin terciptanya SDM yang berkualitas? Jelas tidak ada yang bisa memastikan hal tersebut. Gonjang-ganjing perdebatan mengenai SDM berkualitas dari masyarakat di negara ini pun terjadi. Perlu diketahui, bahwasanya output yang berkulitas didukung oleh tenaga pengajar yang kompeten dan profesional. Alhasil, sekolah tinggi dan universitas menjadi sumber yang diharapkan dapat melahirkan pendidik-pendidik yang bermutu, bertanggung jawab, dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi apa gunanya pendidik yang kompeten dan profesional jikalau mereka tidak memiliki sikap atau akhlak yang baik? Kecerdasan yang tidak diimbangi dengan budi pekerti yang luhur, hanya menghasilkan banyak pertentangan yang berujung pada penyimpangan, pembangkangan, dan tindak kejahatan yang luar biasa. Lalu siapa yang dapat diandalkan dan diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan di negeri ini dengan sebaik-baiknya? Mari kita lihat kontribusi dari sarjana Pendidikan Agama Islam. “Hah? Bukannya sarjana lulusan prodi Pendidikan Agama Islam hanya digunakan untuk mengajar Pendidikan Agama Islam saja? Bagaimana dengan nasib ilmu pengetahuan umum seperti matematika, fisika, biologi, kimia, dan lainnya?” Begitulah paradigma yang tertanam dalam pemikiran masyarakat kita saat mengetahui gelar sarjana Pendidikan Agama Islam. Padahal tujuan daripada Pendidikan Agama Islam sendiri tidak hanya sebatas itu. Bila dibentangkan lebih lebar, Islam memberi himbauan untuk umatnya agar giat menuntut ilmu, mulai dari buwaian sampai liang lahat. Alasannya adalah karena Allah SWT telah menanamkan pada tiap-tiap diri manusia sebuah kelebihan yang berfungsi untuk keberlangsungan hidup seluruh umat manusia baik secara pribadi maupun menyeluruh.

Strategi Dakwah dalam Bidang Pendidikan Agama Islam pada Anak di Tengah Pandemi Covid-19

Semenjak Covid-19 menyebarluas di Indonesia membawa beberapa masalah dalam semua bidang kehidupan manusia. Salah satunya adalah dalam bidang pendidikan yang paling utama adalah pendidikan Agama. Pendidikan Agama Islam yang selama ini diajarkan secara langsung oleh para guru di sekolah serta para ustaz ustazah di Taman Pendidikan Al-Qur'an terpaksa kini harus diliburkan karena adanya anjuran dari pemerintah. Lantas para anak pasti bingung dalam memahami Pendidikan Agama Islam jika tidak ada sosok pembimbing bagi dirinya. Serta permasalahan anak yang mudah bosan dan mental yang belum terlatih berani dalam menghadapi banyak orang. Sebuah penelitian memaparkan bahwa gaya belajar anak secara daring cenderung lebih visual dan baca tulis yang kuat (Drago, & Wagner,2004) banyaknya platform yang mendukung secara gratis seperti Google Classroom, WhatsApp, Quipper dan lain sebagainya (Abidah, Hidayaatullah, Simamora, Fehabutar, & Mutakinati, 2020) namun penggunaan platform tersebut belum efektif, karena keterbatasan sarana dan prasarana para anak yang kurang memadai. Dengan mengutip data di atas perlu adanya dakwah terhadap anak yang mengutamakan kreativitas dan adanya tantangan bagi anak agar dapat melatih mental mereka. Dakwah sendiri merupakan usaha menyampaikan sesuatu kepada orang lain, baik itu perorangan atau kelompok tentang pandangan dan tujuan hidup manusia sesuai Islam. Dakwah dapat diartikan sebagai seruan, ajakan, dan panggilan. Atau lebih tegasnya, dakwah adalah proses penyampaian ajaran islam dari seseorang kepada orang lain, baik secara individu, maupun secara kelompok. Dalam berdakwah harus menyiapkan strategi dakwah yang baik agar dapat tercapainya tujuan dakwah. Strategi dakwah adalah sebuah cara dalam mengajak sasaran dakwah dalam situasi dan kondisi tertentu guna mencapai tujuan dakwah tertentu. Dalam situasi dan kondisi pandemi Covid-19 ini strategi dakwah yang perlu dilakukan adalah dengan memanfaatkan sosial media (virtual) atau jika ada kemungkinan dilaksanakan secara langsung harus sesuai dengan protokol kesehatan. Salah satu strategi pengembangan pendidikan Agama Islam pada anak yakni dengan mengadakan perlombaan. Perlombaan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman anak mengenai Pendidikan Agama Islam. Dengan adanya perlombaan ini dapat melatih mental anak-anak tidak hanya teori saja. lomba ini juga dapat meningkatkan dan mengembangkan prestasi anak dalam bidang keagamaan yang antinya bisa menjadi para generasi yang saleh dan salehah. Perlombaan anak-anak dalam bidang Pendidikan Agama Islam di tengah pandemi ini bisa dilakukan secara virtul maupun langsung namun dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan. Dengan adanya Festival Anak Islami yang telah saya lakukan bersama para remaja Masjid Nurul Iman ini terbukti membawa dampak positif bagi anak seperti kebiasaaan pada diri mereka untuk senantiasa membaca serta menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an, kebiasaan berlatih Adzan dan Iqomah, serta kebiasan untuk senantiasa belajar mengenai pendidikan Agama Islam terkait Aqidah dan Akhlak

Jumat, 05 Februari 2021

Pentingnya Pendidikan Agama Islam pada Generasi Muda

Pendidikan bertujuan untuk membentuk suatu perilaku yang baik pada generasi muda muslim, yang berdasarkan dengan aqidah Islam serta ketauhidannya kepada Allah swt., bergaul dengan teman yang mempunyai akhlak yang baik pula, memperdalam gama dengan berbagai cara, misalnya saja mempelajari hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum -hukum Islam agar pengetahuannya bertambah semakin luas. Islam mempunyai tujuan untuk menanamkan jiwa kemasyarakatan yang sangat penting dan berguna kelak ketika sudah berkeluarga, dan sekarang seorang pemuda mempunyai tugas untuk berlatih dalam masyasakat sedikit demi sedikit agar kelak tidak kesulitan ketika terjun langsung dalam masyarakat. Hal itu memerlukan kesadaran yang muncul dalam diri sendiri, atau ada juga dorongan dari luar misalnya saja keluarga atau teman di sekelilingnya sehingga dengan begitu ada perasaan yang membangkitkan semangat untuk mau keluar dan belajar bermasyarakat demi tercapainya masa depan yang menjanjikan. Manusia itu dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun, kemudian Allah swt. menugaskan manusia untuk mencari tahu apa yang ada di sekelilingnya serta mempelajari setiap perubahan-perubahan yang terjadi melalui panca indra. Sudah seharusnya sebagai generasi muda untuk menerapkannya pada kehidupan sehari-hari dan mencintai setiap proses yang terjadi. Sehingga sejak dini sudah tercipta suatu karakter individu yang bisa menghadapi hambatan-hambatan yang suatu saat pasti akan terjadi. Melalui pendidikan dan pengajaran, berdampak pada akhlak yang baik. Apabila seseorang yang pada awalnya belum begitu mengetahui tentang ilmu agama, kemudian ia mempunyai niat untuk memperdalam ilmu agamanya dengan cara menuntut ilmu di sekolahan yang berbasis agama, maka dengan seiring berjalannya waktu ia akan mengerti tentang ilmu agama. Selain itu moralnya juga menjadi lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Kemudian ketika di dalam masyarakat ia sudah siap apabila di minta tolong untuk melakukan suatu hal yang berhubungan dengan agama. Pendidikan juga sebagai sarana untuk mempelajari aspek-aspek dalam kehidupan yang menjadikan para pemuda mempunyai dasar pemikiran yang kokoh. Karena dengan dengan itu seseorang menjadi terbiasa dalam berfikir secara kritis dan dengan dasar-dasar pendidikan agama Islam seseorang dapat berfikir secara jernih dan tidak bingung apabila menghadapi persoalan kehidupan. Dengan terwujutnya suatu karakter pada generasi muda akan berdampak positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya, dan menjadikan perubahan dalam masyarakat, yang dulunya sangat pasif, tidak mengetahui agama secara keseluruhan, dan berakhlak yang kurang, sekarang menjadi aktif dalam segala hal, berwawasan luas, berakhlak yang baik. Karena jika seseorang kepribadiannya masih sangat kuno, pasti akan banyak sekali masalah-masalah yang muncul yang mengakibatkan pertentangan antar individu atau antar kelompok. Mereka tidak bisa berfikir positif dan menjadi semena-mena dalam menentukan keputusan. Islam memiliki rahasia di dalamnya. Islam membawa kebahagiaan dunia akhirat yang mempunyai dampak yang sangat baik bagi manusia. Islam menjelaskan setiap aspek-aspek dalam kehidupan. Seperti yang dijelaskan oleh (hafidz, kastolani, 2009:11) bahwa agama islam yang hanif merupakan pedoman dalam kehidupan, individu atau masyarakat, aspek material atau spiritual secara bersamaan. Islam memperjelas makna ibadah dan mempertegas nilai kerja, memperhatikan segala aspek kehidupan, mengatur urusan duniawi seluruhnya sebagai jalan satu-satunya menuju kehidupan akhirat.islam memperhatikan seluruh aspek kehidupan dengan berbagai aturannya. Baik aspek ekonomi, politik, pemerintahan, ilmu, kemasyarakatan dan lain sebagainya. Hambatan-hambatan yang terjadi dalam kehidupan ini ada berbagai macam dan mungkin akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu, misalnya saja kesadaran yang masih sangat lemah, banyaknya pendidikan islam yang belum mengimplikasikan visi dan misinya secara nyata, yang dalam kegiatan di sekolah kurang menerapkan perilaku-perilaku yang telah di ajarkan pada agama islam. Banyak pula teknologi yang semakin maju yang mengakibatkan generasi muda menjadi terlena akan hal itu dan menjadikannya semakin malas untuk beraktifitas dan keluar melihat bagaimana keadaan sekitarnya, bahkan kurangnya motivasi yang mana sebenarnya merupakan faktor yang sangat penting. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Generasi muda harus pintar-pintar dalam melakukan suatu hal, mereka harus berfikir secara matang serta tidak melupakan akibat-akibatnya yang akan terjadi. Karena apabila para pemuda tersebut lalai dalam hal sekecil pun, maka akan mendatangkan suatu penyesalan yang besar nantinya. Maka untuk itu islam mengajarkan solusi-solusinya dari setiap hambatan-hambatan tersebut. Seperti islam mengajarkan kepada umat islam agar tidak berputus asa dalam menghadapi sesuatu dan anjuran untuk bersungguh-sungguh untuk mendapatkan apa yang di inginkannya sehingga apabila generasi muda mulai melemah semangatnya menjadi bangkit kembali karena telah mendapatkan ajaran agama islam tersebut. Pendidikan islam yang masih sangat minim dalam menerapkan visi dan misinya seharusnya meningkatkan upaya-upaya yang berhubungan dengan visi misi tersebut. Atau mungkin para guru lebih memperhatikan peraturan-peraturan dan memberi sangsi apabila ada siswa yang melanggar. Selain itu para guru juga menganjurkan kepada siswanya untuk berpakaian sopan selayaknya tuntunan agama Islam yang harus menutup aurotnya khususnya bagi putri. Para siswa juga perlu untuk diajari tentang bagaimana baca tulis Al-quran secara benar dan dijelaskan pula makna dari setiap ayat Al-Quran, dengan tujuan supaya siswa tidak menghiraukan kitabnya sendiri. Dalam hal ini peran generasi muda adalah selalu memperhatikan cara-cara mendidik siswa yang benar menurut ajaran agama Islam dan dapat diterima secara utuh oleh siswa serta ajaran tersebut dapat direalisasikan secara langsung karena telah mendarah daging dan tertanam dalam jiwa para siswa. Manfaat pendidikan agama Islam utuk masa depan ada banyak sekali, khususnya apabila sudah berkeluarga, pendidikan tersebut berperan sebagai pengetahuan untuk mendidik diri sendiri dan keluarganya kelak, dalam bermasyarakat, dan juga sebagai perisai untuk cobaan-cobaan perkembangan zaman yang semakin beraneka ragam. Semua itu tidak akan berjalan lancar apabila tidak ada kekuatan iman yang mendasar pada diri generasi muda. Karena dengan iman, seseorang mempunyai pendirian yang akan mempertahankannya dari berbagai situasi dan kondisi yang akan terjadi. Seperti yang dijelaskan oleh (hafidz, kastolani, 2009:157) bahwa sesungguhnya pendidikan Islam merupakan model pendidikan yang telah menumbuhkan generasi beriman, siap mengorbankan dirinya, berkhidmat untuk masyarakat, dan memberikan kesenangan dan kebahagiaan kepada umat manusia, telah menunaikan peran yang istimewa dalam mentransfer nilai-nilai keislaman dan peradaban Islam dari generasi terdahulu kepada generasi mendatang dan dari generasi tua kepada generasi muda. Pendidikan Islam dan peradaban Islamharus bersama-sama sebagai satu kesatuan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif. Hendaknya kaum muslimin dapat menghadapi berbagai tantangan ini dengan sikap konsisten, baik sebagai individu, kelompok, bangsa dan masyarakat, Negara atau pemerintah sehingga dapat menunaikan amanah islam yang telah diamanatkan Allah swt. Maka untuk itu pentingnya pendidikan agama Islam pada generasi muda ialah untuk mewujudkan cita-cita masyarakat Islam yang sesuai dengan perintah Allah swt. dan menanamkan Akhlakul Karimah sebagai bekal menuju jalan yang telah disiapkan oleh allah swt. untuk hamba-hambanya yang mau dengan ikhlas belajar sesuai dengan ajaran Islam. sumber: Kompas siana

Senin, 21 Desember 2020

Upaya Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Di sekolah Umum

Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah umum sejak sekolah dasar (SD), sampai perguruan tinggi mempunyai peranan yang sangat strategis dan signifikan dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu dan berkepribadian muslim sejati, dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pemberdayaan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki nilai dan sikap, sehat, berilmu cakap,kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis, bertanggung jawab. Untuk mewujudkan perlu perjuangan sungguh-sungguh melalui lembaga-lembaga pendidikan. Sekolah umum merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki tanggung jawab dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang jumlah jam pelajaran 4 (empat) jam perminggu di SD dan 3 (tiga) jam perminggu di SMP dan SMA/SMK. Dimana jumlah jam tersebut tidak menjamin sepenuhnya untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, karena materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat luar, kompleks dan universal. Dalam kehidupan keseharian kita banyak sekali menemukan perilaku negatif yang ditunjukkan oleh peserta didik diantaranya tawuran, terlibat pemerkosaan, hamil diluar nikah, pencurian, perampokan, narkoba, pembunuhan dsb. Menurut tafsir (1996:21) ia mengatakan bahwa kemerosotan akhlak banyak terjadi pada semua lapisan masayarakat, akan tetapi dikalangan remaja lebih banyak, nyata dan terlihat. Perilaku tersebut merupakan indikator belum optimalnya pendidikan agama Islam di sekolah dan sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan khususnya guru pendidikan agama Islam (PAI) untuk mencari model pembelajaran yang mempu menginternalisasi nilai nilai ajaran Islam dalam diri peserta didik. Dalam pandangan beberapa penulis bahwa setidaknya ada tiga alasan penting mengoptimalkan pendidikan Islam di sekolah yaitu: Pertama, bahwa peserta didik aset terbesar umat Islam ada di Sekolah, sebab jumlah generasi muda Islam di sekolah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan generasi muda Islam dan madrasah atau pesantren. Kedua, alokasi mata pelajaran PAI yang diajarkan di sekolah sangat terbatas yang tidak mungkin dapat menyelesaikan materi pembelajaran Agama Islam secara menyeluruh dan utuh. Penanaman nilai nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari tidak akan dapat dilakukan oleh guru PAI semata dengan alokasi waktu yang disediakan. Oleh karena itu usaha optimalisasi mesti dilakukan secara terpadu. Ketiga, jika pendidikan Agama Islam kurang mendapat perhatian di sekolah, maka dikhawatirkan terjadinya dikotomi antara ilmu dan agama. Kelak mereka akan cerdas dan menguasai sains, akan tetapi tidak dilandasi dengan keimanan yang kuat, kaya intelektualitas tetapi miskin spiritualitas keagamaan. Akibatnya kecerdasannya lebih mendatangkan kemudharatan dari pada kemashlahatan. Dan untuk mengatasi persoalan tersebut, perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan pendidikan Agama Islam di sekolah. Pelaksanaan pendidikan Agama Islam di sekolah masih menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Banyak faktor penyebab keprihatinan itu, antara lain pertama,dari segi jam pelajaran yang disediakan oleh sekolah secara formal, peserta didik dikalkulasikan waktunya hanya 4 jam pelajaran perminggu di tingkat SD dan 3 Jam perminggu di tingkat SMP/SMA untuk pendidikan Agama. Coba bandingkan dengan mata pelajaran lainnya yang bisa mencapai 6 – 8 jam perminggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah hasil belajar yang diperolehnya sangat minim dan terbatas. Namun itu bisa diperkecil dengan kerjasama dari semua kalangan terutama dari tenaga pendidik yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan Agama adalah tugas dan tanggung jawab bersama Semua guru, artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru Agama saja melainkan juga guru-guru bidang studi yang lainnya. Guru-guru bidang studi yang lain bisa mengintegrasikan pendidikan Agama ketika memberikan pelajaran bidang studi. Dari hasil pendidikan Agama yang dilakukan secara bersama-sama ini, dapat membentuk pengetahuan, sikap,prilaku dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya optimalisasi pendidikan agama Islam diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia termasuk penataan pendidikan Agama Islam. Gambaran umum tentang optimalisasi pendidikan agama islam di sekolah belum memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualitas pendidikan agama Islam di sekolah yang menjadikan agama sebagai benteng moral bangsa. Kondisi ini dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu sumber daya guru. Guru pendidikan agama Islam dibanyak tempat sering kali merasa bagaikan a sigle singhter di tengah meda yang luas, mereka dihadapkan pada keadaan dan suasana yang memang belum mendukung untuk menunaikan tugas dan tanggung jawab pengabdiannya. Mereka terkesan puas hanya dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan tentang al Islami yang mencakup kegiatan hanya sebatas apa yang digariskan dalam GBPP. Dimana mereka belum terpanggil untuk bertugas bukan hanya sebatas menyampaikan apa yang tertulis dalam silabus. Guru PAI seharusnya tampil menunaikan tugasnya bukan semata-mata didasarkan atas formalitas kewajibannya, melainkan didorong oleh yang pertama-tama adalah panggilan jiwa dan kesadaran nurani muslimnya untuk menyampaikan dan menghadirkan Al-Islam lebih banyak dan lebih baik. Untuk itu diperlukan upaya dan usaha nyata melalui program terpadu untuk meningkatkan jumlah dan mutu guru PAI di semua jenis dan jenjang pendidikan Menurut Arifin (2000) Guru Indonesia dipersyaratkan mempunyai : (1) Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap tekhnologi dan ilmu pengetahuan. (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi dilapangan dan bersifat ilmiah serta riset pendidikan hendaknya diarahkan kepada praksis pendidikan masyarakat Indonesia. (3) Pengembangan kemampuan professional berkesinambungan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek Pendidikan. Oleh karenanya penugasan studi banding ke luar daerah dan bahkan ke luar negeri perlu dilakukan sebagai salah satu contoh program peningkatan dan memperluas wawasan, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan pembelajaran yang lainnya. Oleh karena itu upaya optimalisasi pendidikan agama Islam harus dilakukan dengan mengoptimalkan fungsinya dan memaksimalkan program dan kegiatannya dengan upaya-upaya sebagai berikut : 1.Kerjasama atar teman sejawat di sekolah Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran pendidikan agama akan berhasil dengan baik manakala adanya kerjasama dengan semua pihak yang terkait diantaranya sejawat yaitu guru-guru di tiap sekolah, dimana mereka ini adalah sejawat dan mitra guru PAI. Setiap guru ssesungguhnya memikul amanah dan tanggung jawab untuk memperjuangkan tercapainya tujuan pendidikan nasional sekalipun tanggung jawab formal dan pembidangan tugas dibedakan. 2.Tersedianya Sarana pendukung Melengkapi sarana pembinaan agama Islam di Sekolah. Untuk mendukung kegiatan pendidikan Islam di sekolah, pendidikan agama memerlukan sarana penunjang yang akan memungkinkan kegiatan-kegiatannya dapat dilaksanakan. Sarana yang dimaksud berupa sumber belajar seperti buku-buku yang memadai, sarana labor agama dengan menyiapkan perlengkapan yang menunjang materi pembelajaran, seperti perlengkapan shalat, peralatan shalat jenazah, pelaralatan ibadah haji, peralatan thaharah, contoh jenis-jenis binatang halal dan haram, dan sebagainya. Labor tersebut juga dilengkapi dengan multimedia, seperti komputer, infokus dan sound system sehingga CD pembelajaran PAI kesemuanya akan diperuntukkan bagi peserta didik guna mendalami pengetahuan dan keterampilan keagamaan. 3.Dukungan dari pihak-pihak yang berkompeten Apa yang dijelaskan diatas bermuara pada tanggung jawab kita semua terutama dukungan kebijaksanaan dan pengaturan sttruktural dari semua lini dan lapisan. Kita mengharapkan tumbuhnya gagasan-gagasan dan rencana-rencana kegiatan nyata dari bawah, yaitu dari para guru dan sekolah masing-masing juga dukungan oleh peraturan kebijaksanaan yang lebih kokoh dari atas dan masyarakat luas agar dapat terlaksana dengan baik. 4.Menerapkan pengintegrasian pendidikan Agama Islam ke dalam mata pelajaran umum. Program ini sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1994 dengan program PWKG lalu dikembangkan menjadi program peningkatan Imtaq atau dikenal juga dengan integrasi IMTAQ dan IPTEK. Namun sejak awal tahun 2000, program ini tidak lagi diterapkan dan mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal upaya mengintegrasikan PAI ke dalam mata pelajaran umum akan menghilangkan dikotomi antara ilmu dan agama. 5.Melakukan Evalusi Mengenai evaluasi pendidikan agama Islam ini terkadang menjadi hal-hal yang di luar dugaan. Misalnya ada perserta didik yang jarang sekolah, malas dan merasa terpaksa mengikuti pelajaran Agama, tetapi ketika dievaluasi dia mendapat nilai yang lebih tinggi dibandingkan dangan peserta didik yang rajin belajar agama. Artinya yang salah itu adalah evaluasinya karena yang dilakukan hanyalah mengukur unsur kognitif saja. Tetapi harus dievaluasi juga sikap dan praktik atau keterampilan (psikomotor). Evaluasi ini sebetulnya menentukan status peserta didik tentang hasil belajarnya itu apakah sudah mencapai tujuan yang ingin dicapai atau tidak. Kalau tujuan agama itu adalah supaya peserta didik bisa menjalankan agama Islam dengan baik maka evaluasinya harus sesuai, dan evaluasinya itu bukan hanya berkutat pada kaidah-kaidah kognitif saja tetapi juga yang bersifat pratikal. Upaya optimalisasi pendidikan agama Islam harus menjadi agenda pemikiran bagi guru Pendidikan Agama Islam dan guru bidang studi lainya di sekolah-sekolah umum, sehingga apa yang diharapkan dari tujuan Pendidikan Agama Islam itu sendiri bisa terwujud.

TEORI PERKEMBANGAN SIGMUND FREUD DAN KRITIKNYA

  Muhammad Rifqi Arif 191310004235 4 pai a8 PENDAHULUAN Sigmund Freud lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Frieberg, kota kecil, di daerah Monar...